Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2011

BERI DAKU SUMBA ( Taufik Ismail )

di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

1970

Sabtu, 09 April 2011

Indahnya

Aku menghitung waktuku..
waktu yang kuhabiskan bersamamu..
waktu dimana kita tertawa..
bercanda..
menangis..
…bertengkar..
marah..
dan melakukan segalanya berdua..
hanya aku dan kamu..
kamu dan aku..
aku tak sempurna tanpa dirimu..
karena sesungguhnya yang kurasa adalah bahagia bersamamu..’’
Dan 'cahaya mata' itu penyempurna kita

MIMPI

Aku memang Pemimpi

Tapi.........

Suatu saat pasti

Ku akan mewujudkannya

NAK

Nak ...
Terimakasih untuk pelajaran2 ini
Ketika Darah ini memuncak
Kau tampar dan sadarkan Ayah
Dengan manjamu...

Nak....
Bisikan pada Ayahmu ini
Puisi Kesabaran
Sajak Perdamaian
Pantun Kekuatan

Nak....
Tolong pertahankan
Ladang Cinta kasih
yang Kau Pupuk
Dengan Untaian Bangga
Siraman Nurani

Hingga Tumbuh
Taman kasih nan Indah...

Nak......
Aku Bangga...
Aku Bangga...

Nak.....
Sekarang Tidurlah Dulu
Tuan malam Tlah datang
Besok Bangunkan Ayahmu

Dendangkan lagu Kita
Ya Nak...........

Rabu, 06 April 2011

Kau Ibu dari anak2 ku

Jangan terpaksa tersenyum
jika memang hatimu menangis

Yang kuinginkan adalah
Tawa bahagiamu
Dengan sebuah tangisan

Minggu, 03 April 2011

CINTA ITU ? ? ?

Cinta itu seperti angin

Kecil...sejuk sepoi2 mengasyikkan

Besar...Menghancurkan,Lebur

Porak Poranda

SAJAK PENDEK SORE BERHUJAN

sungguh inilah sore berhujan
:melengkapkan penantian

semacam rindu
:membayang jauh dan sendu


kabut, udara dan langit
:mengusaikan pingit

di sore berhujan kuharap kau datang
:meski hari belum malam kau berkendara kunangkunang



apakah kita akan berpeluk
sampai nafas pun takluk?



ataukah kita akan bercakap
sampai degab pun senyap?



kukenakan jaketku saat menunggu
:biru

kubiarkan kancingkancingnya terbuka
:kerna kuharap engkaulah yang mengatupkannya
barangkali dengan jarijemari gemetar

:tapi aku tahu betapa hatimu tak kenal gentar
barangkali sembari memandang ke mataku
:menyelinap dan menyelidik kalbu



aku ingin bisa meragukan cinta kita
:tapi rasa percaya ini terlalu perkasa



dan sekarang sore makin berhujan
:dan sekarang hujan menderas pula di garistangan



kutunggu kamu tepat di perpotongan itu

:hangat dan Ungu



menghidupkan urat dan ototku

......

AKUMU

Ada kalanya aku membisu seperti batu
Diantara kecipak hujan malam ini
Kembali kesunyian ini
Membatukan hati hingga dingin
bagai API

Selembar dua
Perasaan ini
Kembali Mengelana
Sepuluh atau entah

Seperti taun pertama
Kita jumpa

Ada gamang
Namun keyakinan ini
Buatku Menyala

Bahwa CintaKu
Keras bagai batu
Walau Bisu
Kutahan sampai Akhir

Aku tetap AKUMU

DALAM HUJAN

kota seperti menjauh

:juga Cinta. luruh



malam berhujan

hijau dedaun kelabu kehitaman



lalu angin yang tak berarti apaapa

mendesau fana. dari tenggara



di langit

:sunyi berderit



entah siapa

menghilang di tikungan sana



ah, betapa kurindu tiktak jam

lerai dari pertengkaran



kupilih senyap

:doadoa yang tak terucap



kubiarkan hujan

menderas di dalam Hujan



seperti kubiarkan Bunga

menghapusi warna kelopaknya



"mengapa tak kaucegah?" tanyamu

"ketika kujauhkan diri dari rindu."



aku, pucat dan basah dan kedinginan,

berkata, "Tidak!", terhadap kenangan



membiarkan kau Tidur

melupa umur



sendiri

....



hingga Kini!

JANTE ARKIDAM ( AJIB ROSIDI )

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di penjudian, di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadaian

Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

‘mantri polisi lihat ke mari!
Bakar mejajudi dengan uangku sepenuh saku
Wedanan jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi!’

Berpandangan wedana dan mantripolisi
Jante, Jante; Arkidam!
Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi
Dan kini ia menari!’

‘Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya
Batang pisang,
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi’

Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang
Sepatu

‘mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!’

Hidup kembali kalangan, hidup kembali
Penjudian
Jante masih menari berselempang selendang

Diteguknya sloki kesembilanlikur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya
Mantripolisi berada di sisi kiri
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

Digisiknya mata yang sidik
‘Mantripolisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’

Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya

Sebelum tiba malam pertama
Terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali

‘Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!’

Teriaknya gaung di lunas malam
Dan Jante berdiri di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya

Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tidak diperasnya?
Bidang riap berbulu hitam
Ruastulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tak ditaklukkannya?
Mulutnya manis jeruk Garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tangsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

‘Datang siapa yang jantan
Kutunggu di atas ranjang’

‘Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?’

‘Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang’

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’

Berpaling seluruh mata kebelakang
Jante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu

‘Kejar jahanam yang lari!’
Jante dikepung lelaki satu kampung
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

‘Keluar Jante yang sakti!’
Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul
‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

‘Jante tak kusua barang seorang
Masih samar, di lorong dalam’

‘Alangkah Eneng bergegas
Adakah yang diburu?’

‘Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!’

Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakannya dirinya

‘Hei lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

Berpaling lelaki ke arah Jante
Ia telah lolos dari kepungan

Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya.

CINTA

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita. Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya. Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal.
Iman, keberanian, dan pengharapan.
Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.
Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu, karena alasan yang penting.

Sabtu, 02 April 2011

Kekasih

Tiba tiba dia mendekat dan bertanya, "mengapa aku berada di Sini? tempatku Bukan di Sini..." dua-tiga detik kutatap dia di tepat pada sepasang matanya, kemudian kukatakan, "tempat ini bahkan Tidak ada di manamana. ini adalah tempat Antara pikiranmu dan harapanku berupaya untuk bisa menjelma jadi Kenyataan." ia menunduk, menghela nafas, dan mulai tersedu. aku tersenyum. tibatiba betapa aku ingin bisa mendekapnya.